Home » Terbaru » Ormat Perluas Pijakan, Investasi Panas Bumi Merambah Halmahera Barat dan Bitung

Ormat Perluas Pijakan, Investasi Panas Bumi Merambah Halmahera Barat dan Bitung

Ormat Technologies menambah investasi panas bumi di Indonesia, sejalan dengan penguatan agenda energi terbarukan nasional. Perusahaan panas bumi global ini mendapat penugasan mengelola Wilayah Kerja Panas Bumi Telaga Ranu berkapasitas 40 MW di Halmahera Barat, Maluku Utara.

Dasarnya adalah Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026, yang terkait dengan arah kebijakan menuju net zero emission 2060. Proyek ini diharapkan memperkuat pasokan listrik regional dan menjadi contoh pengembangan WKP baru di kawasan timur.

Panas bumi kembali diposisikan sebagai pasokan listrik yang stabil, terutama saat sistem makin banyak menampung energi surya dan angin yang berfluktuasi.

Dosen senior Magister Energi Terbarukan Universitas Darma Persada, Riki Ibrahim menilai perkembangan ini perlu dibaca secara objektif. Ia menyebut Investasi Panas Bumi yang meningkat akan mendorong inovasi dan kompetisi di industri.

Investasi Panas Bumi Ormat Makin Agresif di Indonesia

Ormat dikenal lewat teknologi Organic Rankine Cycle (ORC) yang dikembangkan sejak 1965. Teknologi ini dipakai di berbagai pembangkit panas bumi dunia untuk memaksimalkan pemanfaatan panas dan mendukung efisiensi pada kondisi tertentu.

Secara global, Ormat mengelola lebih dari 200 proyek energi dengan kapasitas total sekitar 3,2 GW dan tercatat di bursa New York dengan kode ORA.

Di Indonesia, PT Ormat Geothermal Indonesia terlibat di proyek Sarulla 330 MW yang beroperasi sejak 2017. Ormat juga terhubung dengan proyek Gunung Salak 15 MW dan Ijen 35 MW yang mulai beroperasi pada 2025. Peran ini memperlihatkan posisi Ormat sebagai penyedia teknologi sekaligus pengembang, bukan sekadar pemasok peralatan.

Riki mendorong pendirian pabrik Ormat di Indonesia untuk memperkuat transfer teknologi. Menurutnya, langkah tersebut dapat menaikkan TKDN dan menekan biaya, sehingga proyek panas bumi lebih kompetitif.

Ekspansi berikutnya terlihat dari kemitraan dengan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) di Bitung, Sulawesi Utara. Izin pengelolaan diberikan kepada PT Toka Tindung Geothermal, perusahaan patungan yang dibentuk 13 Juni 2025, dengan target 40 MW.

Tahap lanjutan adalah persetujuan lingkungan dan eksplorasi untuk memastikan sumber daya. ARCI menyatakan koordinasi anggaran dan teknis berjalan bersama Ormat, di tengah belanja modal 2025 sekitar 80 juta dolar AS.

Bagi Indonesia, arus Investasi Panas Bumi dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi, membuka peluang kerja, mempercepat bauran listrik rendah emisi, serta mengurangi ketergantungan impor energi nasional.

Kenaikan Investasi Panas Bumi Ormat menandai menguatnya minat global pada geotermal Indonesia, dari Telaga Ranu hingga Bitung. Jika transfer teknologi dan TKDN dipercepat, panas bumi berpeluang makin kompetitif dan memperkuat pasokan listrik bersih.

Demikian informasi seputar kenaikan investasi panas bumi oleh Ormat di Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Prexer.Org.

Related Posts