Indonesia kini berada di titik kritis dalam menghadapi krisis transisi energi. Ketergantungan pada batu bara, yang telah menjadi tulang punggung pasokan energi negara, memberikan dampak besar terhadap ketahanan ekonomi jangka panjang.
Menyumbang sekitar 68% dari pasokan listrik, batu bara tak hanya menekan anggaran negara karena subsidi yang besar, tetapi juga rentan terhadap fluktuasi harga global yang seringkali tidak stabil.
Menurut para peneliti dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), ketergantungan ini membawa tantangan besar, terutama dalam menghadapi pasar batu bara yang fluktuatif, kenaikan biaya subsidi, dan risiko investasi yang terjebak dalam aset berkarbon tinggi.
Indonesia di Persimpangan Krisis Transisi Energi, Apakah Bisa Beralih ke Energi Bersih?
Di sisi lain, energi terbarukan dianggap sebagai solusi jangka panjang yang lebih stabil, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun, meskipun Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai 23% dari total konsumsi energi dari sumber terbarukan pada 2025, kenyataannya hingga paruh pertama tahun ini hanya mencapai 16%. Pemerintah pun terpaksa menunda target tersebut hingga 2030.
Ini menandakan adanya hambatan besar dalam pengadaan dan integrasi sistem energi terbarukan. Salah satu langkah untuk mengatasi krisis transisi energi adalah dengan mempercepat penerapan energi terbarukan dan menangguhkan ketergantungan pada batu bara.
Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah pengembangan infrastruktur jaringan, ketidakcocokan geografis antara sumber energi terbarukan dan pusat permintaan, serta lambatnya kemajuan regulasi yang mendukung investasi energi hijau.
Pemerintah perlu segera mengatasi hambatan ini, meningkatkan kecepatan transisi ke energi bersih, dan menarik lebih banyak investasi energi terbarukan. Keputusan yang diambil pada 2026 akan sangat menentukan apakah Indonesia mampu mempercepat proses ini dan menjadi pemimpin regional dalam energi terbarukan.
Indonesia menghadapi krisis transisi energi yang signifikan. Ketergantungan pada batu bara menyebabkan berbagai tantangan ekonomi dan lingkungan, sedangkan energi terbarukan menawarkan jalan keluar yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Dengan mempercepat transisi ini, Indonesia dapat mengurangi risiko ekonomi, menarik investasi hijau, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Keputusan yang diambil pada 2026 akan menjadi penentu keberhasilan transisi energi Indonesia.
Demikian informasi seputar krisis transisi energi Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Prexer.Org.