Produksi Batubara Pada 2019 Diperoyeksikan Menurun

http://prexer.org/wp-content/uploads/2018/11/Produksi-Batubara-Pada-2019-Diperoyeksikan-Menurun.pngProduksi Batubara Pada 2019 Diperoyeksikan Menurun

Produksi batubara di tahun 2019 diperkirakan akan menurun dibandingkan pada tahun 2018. Hal ini dikarenakan terdaat tantangan yang dihadapi industri batubara. Tantangan tersebut antara lain fluktuasi harga dan kewajiban untuk memasok kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO). Tangantangan tersebut tentu menjadi persoalan bagi banyak perusahaan.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Pandu P. Sjahrir mengungkapkan bawa selama tiga bulan terakhir harga batubara mengalami penurunan. Terlebih lagi perusahaan yang tidak dapat memenuhi kawajiban 25% DMO akan terkena sanksi. Sanki bagi perusahaan tersebut berupa pemangkasan rencana produksi. Hal ini yang kemudian menyebabkan produksi batubara pada 2019 diperkirakan hanya empat kali dari realisasi DMO tahun ini.

Pandu menambahkan bahwa perusahaan harus memiliki cara yang konservatif, seperti menurunkan produksi.

Pada tahun 2018 ini Kementerian ESDM telah menargetkan produksi sebesar 506,9 juta ton, dengan rincian 485 juta ton dalam RKAB, serta 21,9 juta ton dari pengajuan tambahan produksi baru. Hingga Oktober 2018, realisasi produksi batubara baru hanya berada di angka 409,9 juta ton.

Dari jumlah tersebut maka total realisasi DMO hingga Oktober mencapai 90,71 juta ton dari target yang telah ditetapkan pada tahun ini sebesar 121 juta ton. Dari jumlah realisasi tersebut, 72,64 juta ton telah terserap untuk kelistrikan, dan 18,07 juta ton untuk industri.

Pandu telah memproyeksikan bahwa hingga akhir tahun ini total produksi hanya sampai 500 juta ton. Sedangkan serapan DMO akan mengikuti kebutuhan dari PLN di angka 90 juta ton.

Sementara Harga Batubara Acuan (HBA) pada november 2018 dipatok pada US$ 97,90 per ton. Harga tersebut tersu menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, yakni Agustus sebesar US$ 107,83 per ton, Sepetember US$ 104,81 per ton, dan Oktober US$ 100,89 per ton.

Dengan tren penurunan tersebut, Pandu menjelaskan bahwa rencana produksi pada tahun 2019 tidak dapat dipastikan. Selain harga, Pandu juga menjelaskan mengenai DMO yang bisa menjadi faktor penentu besaran produksi. Adapun faktor lainnya adalah pasar yang masih bergantung pada China.

Author Description

Redaksi

No comments yet.

Join the Conversation