Pertumbuhan industri kreatif perfilman Indonesia Meningkat

http://prexer.org/wp-content/uploads/2018/09/Pertumbuhan-industri-kreatif-perfilman-Indonesia-Meningkat.pngPertumbuhan industri kreatif perfilman Indonesia Meningkat

Pertumbuhan industri kreatif perfilman Indonesia semakin meningkat dengan semakin banyaknya produksi film dalam negeri dan jumlah penontonnya. Pada tahun 2018, film yang bergenre romansa remaja, Dilan, tembus 6,3 juta penonton dan bertahan di layar bioskop hingga lebih dari satu bulan.

Sebelumnya tahun 2016, film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar meraih 4,2 juta penonton. Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos! Part 1 mampu meraih sebanyak 6,5 juta penonton. Diproduksi tahun 2016 silam, menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah perfilman Indonesia.

Semakin tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film lokal tersebut tentu merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi industri film nasional. Pasalnya dengan semakin banyaknya jumlah penonton, diharapkan makin banyak investor yang melirik industri kreatif perfilman lokal.

Perkembangan dan pertumbuhan industri kreatif perfilman nasional selama ini, pada dasarnya, belum optimal. Hal tersebut dapat dilihat pada kontribusi industri film terhadap perekonomian Indonesia. Pada tahun 2015, industri film hanya menyumbang sekitar 0,16% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sementara, ketika itu, rata-rata sektor industri kreatif mampu menyumbang 6,03% terhadap PDB Indonesia.

Industri kreatif perfilman nasional dapat bertumbuh subur bila pangsa pasarnya semakin meningkat. Peningkatan jumlah penonton film lokal tentu menjadi hal positif. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mentargetkan film nasional bisa menguasai 50% pasar perfilman dalam negeri pada tahun ini. Untuk mencapai target itu, pemerintah pun siap mensponsori para pelaku perfilman nasional untuk bekerja sama dengan para pelaku perfilman internasional dalam memproduksi film berkualitas yang akan semakin banyak menarik hati penonton.

Meski demikian, dari sisi pelaku industri film, Cinema 21 memproyeksikan pangsa pasar film nasional tahun ini lebih rendah dari target pemerintah, yakni 37%. Proyeksi tersebut didasarkan pada perhitungan pangsa pasar film lokal pada 2017 yang hanya berada di angka 35%, dengan jumlah penonton sebesar 42,7 juta penonton. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2016, di mana jumlah penonton film Indonesia berada di angka 37,2 juta.

Untuk itu dalam rangka mendorong industri kreatif perfilman nasional, salah satu upaya pemerintah adalah membuka Daftar Investasi Negatif (DNI) yang semakin memperluas kesempatan para investor untuk berinvestasi di bidang tersebut. Hal ini, menurut Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), menjadi kesempatan yang baik untuk memperluas pasar film nasional dan mendapatkan pengalaman dari luar dalam hal kontribusinya untuk industri perfilman.

Meningkatnya jumlah penonton tersebut juga didorong oleh faktor meningkatnya layar film di Indonesia. Jika di tahun 2012 ada 609 layar film, maka di akhir 2017 jumlah layar film sudah mencapai 1.412 layar. Meningkatkan jumlah layar film tersebut juga memberikan kesempatan pada banyak film-film lokal untuk dapat bertahan lebih lama di bioskop. Pasalnya, menurut Bekraf, salah satu penyebab sulitnya meningkatkan pangsa pasar film nasional adalah karena minimnya jumlah layar.

Author Description

Redaksi

No comments yet.

Join the Conversation